Bukannya Memilih untuk Diam

Photo by Cristian Newman on Unsplash, desain oleh Ronaldo Yunior
Photo by Cristian Newman on Unsplash, desain oleh Ronaldo Yunior

Kali ini saya menemukan informasi bahwa Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban membuat sebuah kompetisi menulis blog yang bertemakan “Diam Bukan pilihan”. Ketika saya melihat seluruh informasi syarat yang diberikan kepada LPSK, saya berniat untuk mengikuti kompetisi ini dengan jujur dan juga baik. Akhirnya saya pun mempersiapkan ide dan tulisan saya agar sesuai dengan tema dari kompetisi ini.

Beberapa menit, beberapa jam, beberapa hari terlewati, saya pribadi sedikit merasa kesulitan untuk menemukan topik yang baik dan juga bermanfaat. Setelah merenung dan berusaha berbincang-bincang dengan rekan-rekan karyawan kantor tentang tema ini, akhirnya saya mendapatkan sesuatu hal yang bisa membuat saya sendiri pun juga menjadi penasaran dan ingin menjabarkan semuanya. Terutama ketika saya berpikir bahwa setiap manusia pasti mempunyai pilihan, meskipun pilihan-pilihan tersebut semuanya berdampak negatif untuk si pemilih, namun, di antara yang buruk, pasti ada yang terburuk dan ada juga yang lebih baik dari yang terburuk. Oke kali ini saya mendapatkan suatu hal disini.

Setiap manusia, pasti mempunyai pilihan, tidak ada hal di dunia ini yang bukan merupakan sebuah pilihan, semua manusia pasti dihadapkan dengan sebuah pilihan. Contohnya yang saya lihat disini yaitu “berdiam” atau bisa di katakan “menutup mulut”. Menurut saya, DIAM itu merupakan sebuah pilihan. Terutama bagi orang-orang yang mempunyai suatu permasalahan dan juga mempunyai sikap yang “ngak mau ikut campur”, mereka pasti lebih memilih untuk DIAM. Dengan alasan “itu bukan urusan gua, itu bukan masalah gua”. Oke, orang-orang seperti itu biasanya berusaha untuk bermain aman.

Namun, ketika kita masuk kedalam dunia kriminal yang keji dan juga najis, disini kita akan mendapatkan BEGITU BANYAK saksi dan juga korban yang juga memilih untuk DIAM.

“Loh kok diam ? bukan seharusnya para korban itu melaporkan dan saksi itu memberikan fakta yang selengkap-lengkapnya ?”

Disini, kita tidak akan berusaha untuk memotivasi mereka agar tidak diam. Coba kita tenang sejenak, kita berpikir sejenak …

Kenapa mereka diam ? kenapa mereka lebih memilih untuk diam ? kenapa meskipun mereka merupakan seorang saksi dan korban, tetapi mereka lebih memilih untuk menutup mulut mereka rapat-rapat ? apa alasannya ? disinilah saya begitu sangat penasaran dan merasakan adanya ketidakadilan.

Sekarang saya akan memberikan suatu pernyataan yaitu “TIDAK ADA KORBAN ATAUPUN SAKSI YANG DIAM JIKALAU MEREKA PERCAYA KEPADA KEADILAN DAN MERASA AMAN”. Tidak ada orang yang sudah menjadi korban kriminal, namun mereka masih ingin berdiam. Tidak ada loh yang mau sebenarnya. Seekor cacing pun akan bergerak gelisah kalau dia merasakan sakit, apalagi manusia yang SUDAH menjadi korban ataupun SUDAH melihat suatu tidak kejahatan yang nyata. Dan ternyata, mereka lebih memilih diam hanya karena keterpaksaan dan tekanan.

Sebagai contoh, yaitu seorang saksi. Mereka tidak akan berani berbicara dan melaporkan kesaksian mereka jikalau tidak ada alasannya. Dan alasannya apa ?

Merasa tidak adanya keadilan.

Begitu banyak saksi yang lebih baik menutup mulut mereka ketimbang berurusan dengan hukum dan juga kepolisian. Meskipun para kepolisian dan hukum mengatakan bahwa mereka akan melindungi setiap saksi. Tetapi ketika banyak PARA TERSANGKA SUDAH BERMAIN DENGAN UANG, menurut saya, tidak ada lagi yang namanya keadilan. Jikalau memang, lembaga hukum dan juga kepolisian mencerminkan keadilan dari dulu, mungkin begitu banyak saksi yang berani melaporkan setiap detil dari kesaksian dan tidak perlu LPSK menggunakan slogan untuk memotivasi saksi. Alhasil, mereka hanya tidak percaya lagi dengan keadilan di negerinya.

Merasa Takut.

Hal seperti ini mirip ketika saya melihat suatu berita tempo dulu yang menceritakan ketika seorang pasien yang membeberkan kebobrokan dari sebuah rumah sakit. Dan akhirnya sang pasien pun malah mendapatkan hukuman dari lembaga kehakiman negerinya sendiri. Ironisnya, malahan sang pasien mengemis bantuan yang bukan berasal dari lembaga keadilan, melainkan dari MASYARAKAT. Tidak cuma kasus-kasus tersebut, begitu banyak kasus yang ternyata membuat boomerang bagi para saksi, sehingga saksi menjadi takut dan merasa tidak percaya lagi dengan keadilan di negeri ini. “Buat apa saya berjuang melapor dan memberikan fakta, toh saya juga nantinya kena boomerang, toh nantinya saya juga yang kena, kalau keadilan di negeri ini bagus sih ngak apa-apa.”

Kutipan Kata Eduard Douwes Dekker, desain oleh Ronaldo Yunior
Kutipan Kata Eduard Douwes Dekker, desain oleh Ronaldo Yunior

Disitulah kenapa begitu banyak saksi yang enggan ingin melapor, toh masyarakat juga banyak yang tidak percaya lagi dengan keadilan. Dari situ, kita akan melangkah lagi ke dalam posisi yang paling-paling dirugikan yaitu sang KORBAN.

Ketika saya berpikir soal korban yang ditekan, di pikiran saya langsung saja terlintas kepada … korban pemerkosaan. Menurut saya merekalah yang harus benar-benar di lindungi dan juga diperjuangkan. Kenapa tidak ? korban pemerkosaan layaknya perumpamaan “sudah jatuh, tertimpa tangga lagi”. Kenapa saya bilang begitu ? mereka sudah diperkosa, dan mereka yang malah akan mendapatkan labelling dan cemooh dari lingkungannya juga. Bayangkan … mereka yang benar-benar menjadi korban, merekalah juga yang dikucilkan dari lingkungan mereka. Apa yang mereka bisa perbuat ? kalau mereka merupakan seorang yang sangat kaya sih menurut saya tidak apa-apa, toh dengan uang dan kekayaannya ia dapat menutupi aibnya mereka seperti para artis-artis yang pernah mendapatkan skandal. Lalu bagaimana dengan korban yang hidupnya pas-pasan ? itulah kenapa begitu banyak korban yang menjadi gila, bunuh diri dan juga tidak mempunyai masa depan. (meskipun jalan keluar terakhir, biasanya mereka keluar dari lingkungan yang lama dan pergi jauh menuju ke sebuah lingkungan yang baru)

Apalagi tekanan-tekanan yang mereka dapatkan dari para tersangka. Mereka diancam, mereka ditekan dan juga mereka dipaksa untuk tidak melaporkan, sekaligus menanggung janin hasil dari pemerkosaan. Terutama jika para tersangka tersebut ialah orang-orang kelas atas yang membayar para lembaga keadilan untuk menutup kasus. Disinilah kenapa begitu banyak korban lebih memilih untuk diam dan meratapi masa depannya yang direnggut tanpa adanya keadilan.

Mereka Merasa Sangat Malu dan Tertekan.

Jikalau mereka melapor bahwa mereka merupakan seorang korban pemerkosaan. Mungkin mereka memang sedikit merasa puas. Namun, apa yang akan terjadi dengan lingkungan dan juga jiwanya ketika melangkah kembali ke lingkungan publik ? pastinya cepat lambat, rahasianya pasti akan ketahuan, dan terjadinya labelling dan cemooh dari orang-orang sekitarnya, ditambah lagi … jikalau korban sampai hamil. Pastinya sang korban akan merasa sangat-sangat malu ketika mempunyai anak haram.

Kalau untuk bertempat tinggal di kota-kota besar, mungkin hal labelling dan juga cemooh tidak begitu kuat, namun bagaimana ketika korban bertempat tinggal di perkampungan ataupun permukiman yang konservatif ? pastinya begitu banyak cemooh dan labelling dari orang-orang disekitarnya, lalu sampai-sampai … fakta yang tersebar secara perlahan-lahan dari mulut ke mulut malah menjadi sebuah gosip yang menghakimi si korban. Kasihan banget.

Ketidakpercayaan Terhadap Keadilan Negerinya.

Kembali lagi kepada keadilan di negerinya sendiri. Buat apa dia melapor toh akhir-akhir sang tersangka cukup hanya membayar lembaga keamanan dan keadilan untuk membuat agar si korban terbungkam. Buat apa ? toh akhirnya-akhirnya si korban hanya mempermalukan diri sendiri. Disinilah ketidakpercayaan masyarakat terhadap keadilan di negerinya, sehingga membuat mereka lebih memilih untuk DIAM.

Kutipan Kata Basuki Tjahaja Purnama, desain oleh Ronaldo Yunior
Kutipan Kata Basuki Tjahaja Purnama, desain oleh Ronaldo Yunior

Disinilah mereka TERPAKSA memilih untuk DIAM ! bukannya mereka TIDAK ADA pilihan, mereka ADA ! tetapi mereka memilih yang sesuai dengan kenyataan dari keadilan negerinya, dan terutama kebaikan dirinya sendiri. Jikalau memang, suatu negara mempunyai keadilan yang bersih tanpa suap dan gratifikasi, tidak harus lembaga-lembaga mendorong para saksi dan korban untuk berbicara, mereka BISA dengan sendirinya mengeluarkan suara untuk menegakan kebenaran dan keadilan. Siapa sih korban yang tidak ingin tersangkanya mendapatkan sanksi ? siapa sih saksi yang betah menyimpan fakta kriminal yang seharusnya dilaporkan ? sepengecut-pengecutnya orang untuk menjadi saksi, ia akan tetap memberikan laporan terlengkap jikalau memang laporan yang ia berikan digunakan oleh orang-orang yang bersih juga.

Hukum karma pasti berlalu, tetapi dengan adanya keadilan, hukum karma akan menjadi lebih rasional … jikalau keadilan itu bersih dan tidak memihak.

Disinilah kita, khususnya lembaga keadilan dan kemanusiaan (termasuk LPSK), untuk mempertebal kembali kepercayaan masyarakat yang sekarang begitu sangat tipis. Begitu banyak berita-berita keadilan yang tidak masuk di akal, terutama di negeri ini. Disitulah kita sebagai pejuang keadilan dan HAM, berusaha untuk mengubah pandangan jelek dari masyarakat. Bukan hanya untuk kita, tetapi untuk generasi yang akan datang.

“Orang tulus dan benar, pasti ada, jikalau tidak ada, jadilah salah satu orang tersebut. Tidak ada kata terlambat untuk berubah dan berjuang untuk kebenaran”

-Ronaldo Yunior

Akhir Kata :

Alasan saya memilih topik dari tulisan ini, karena saya tidak hanya bisa mendorong mereka untuk bersuara tanpa mengetahui latar belakang mengapa mereka memilih untuk diam, sedangkan mereka merupakan saksi dan korban yang mempunyai begitu banyak laporan untuk memperoleh keadilan. Saya tidak bisa seakan sok tahu untuk mendorong mereka, sedangkan saya tidak tahu fakta di balik kebisuan mereka.

Dan saya pribadi, ketika melihat LPSK berusaha untuk mendorong dan memperjuangkan keadilan, saya merasa cukup bersemangat untuk berpartisipasi didalam kompetisi ini. Saya juga melihat berita-berita di media tentang LPSK yang terus mengalami peningkatan hubungan kerja sama terhadap lembaga-lembaga penegak kebenaran seperti salah satunya KPK yang tugasnya memberantas korupsi.

Saya juga melihat LPSK mengajak untuk seluruh saksi dan korban agar mereka tidak memilih untuk diam, dan LPSK memberikan statement “LPSKMelindungi”, disitu saya merasa sedikit cukup tenang. Memang, kita semua butuh perlindungan dari para mafia keadilan dan hukum. Itulah kenapa LPSK berusaha bukan hanya untuk mendukung, tetapi juga melindungi. Semoga LPSK dapat menjadi lembaga yang benar-benar pro terhadap keadilan rakyat dan tidak menerima satupun suap.

Saya Ronaldo Yunior, saya dukung Lembaga Perlindungan Korban dan Saksi. #DIAMBUKANPILIHAN #LPSKMELINDUNGI

Kutipan Kata Soekarno, desain oleh Ronaldo Yunior
Kutipan Kata Soekarno, desain oleh Ronaldo Yunior

Link-link artikel untuk bukti-bukti peningkatan kerja sama :

https://news.okezone.com/read/2017/09/27/337/1784021/berani-jujur-lpsk-gandeng-kpk-untuk-lindungi-saksi-pelapor-kasus-korupsi

http://www.beritasatu.com/nasional/454895-kpklpsk-kerja-sama-penerapan-sistem-informasi-wbs.html

http://poskotanews.com/2017/09/27/gandeng-kpk-lpsk-siapkan-program-laporan-korupsi/

Video-video untuk pendukung tema dan artikel :

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s